ARTIKEL
SEJARAH DESA
Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon yang terletak di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, merupakan desa yang menyimpan jejak sejarah panjang sejak masa awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Informasi sejarah desa ini telah ditelusuri dan disusun oleh Bapak Agus Winaryanto berdasarkan wawancara dengan tokoh-tokoh lokal dan juru kunci makam, di antaranya Alm. Bapak Suwarto, Alm. Bapak Biarno, Bapak Anwari, dan tokoh masyarakat lain yang hidup di antara tahun 2002 hingga 2011.
Tulisan ini bertujuan membangkitkan kesadaran generasi muda akan pentingnya mengenali dan melestarikan sejarah dan tradisi lokal. Di era digital saat ini, cerita rakyat dan sejarah lisan terancam punah jika tidak dilestarikan. Oleh karena itu, pewarisan nilai-nilai lokal harus terus digalakkan.
Sejarah Gumelem: Dari Wahyu ke Prabon hingga Berdirinya Desa
Asal Usul Dawegan Ijo
Sejarah Gumelem berawal dari kisah dua saudara, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring (Wonomenggolo), putra dari Ki Ageng Selo yang hidup sebagai petani saleh di Desa Sodo, Gunungkidul. Kedua tokoh ini sangat dihormati dan mendapatkan gelar kehormatan karena ketekunan dan kedekatannya pada ajaran Islam.
Suatu hari, Ki Ageng Giring mendapat petunjuk gaib mengenai "Wahyu ke Prabon", yang diyakini akan jatuh pada siapa saja yang meminum air dari sebuah kelapa muda hijau (dawegan ijo) secara langsung dan habis. Saat kelapa itu berhasil ditemukan dan disimpan, adiknya, Ki Ageng Pamanahan, meminumnya secara tak sengaja. Hal ini menjadi awal garis keturunan raja-raja Mataram, termasuk Raden Sutawijaya (Panembahan Senopati), putra Ki Ageng Pamanahan.
Pertemuan dengan Dewi Nawangsasi dan Keturunan
Panembahan Senopati jatuh cinta pada Dewi Nawangsasi, putri Ki Ageng Giring. Dari pernikahan ini lahirlah Jaka Umbaran, yang kemudian ingin mengenal dan bertemu ayahnya. Setelah diterima di Keraton Mataram, ia pun diutus oleh sang ayah untuk memberikan tugas pada kakeknya membuat warangka keris dari "kayu purwasari"—yang ternyata memiliki makna simbolis membinasakan orang tuanya. Ki Ageng Giring menyadari hal tersebut dan membimbing Jaka Umbaran untuk tetap berbakti kepada Mataram.
Perjalanan Terakhir Ki Ageng Giring
Ki Ageng Giring melanjutkan perjalanannya ke barat hingga tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Gumelem. Dalam perjalanan, banyak tempat dinamai berdasarkan peristiwa yang terjadi, seperti:
-
Larangan: tempat Ki Giring dilarang berjalan karena sakit
-
Karanglewas: tempat ia kehilangan penglihatannya
-
Ketandan: tempat beliau ditandu karena lemah
Di sebuah lokasi, beliau melihat buah delima dan merasa terkesan. Tempat itu dinamai Gumelem (dari kata "gumun" dan "delem")—asal-usul versi pertama nama desa. Versi lain menyebutkan bahwa nama Gumelem berasal dari peristiwa menyeberangi sungai dengan arus deras, hingga banyak pengikutnya hampir tenggelam (kemelem).
Wafatnya dan Legenda Girilangan
Ki Ageng Giring wafat sekitar tahun 1584 M. Sebelum wafat, beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan di Sumur Beji, dibawa ke Salamerta (tempat Dewi Nawangsasi tinggal), dan jika tidak kuat dipikul, agar diletakkan saja.
Ketika sampai di sebuah bukit, jenazahnya terasa sangat berat dan akhirnya tandunya diletakkan. Tanah di bawah tandu pun amblas, dan ketika diangkat kembali, jenazahnya sudah tidak ada, hanya tersisa kain kafan. Tempat ini kemudian dinamakan Bukit Girilangan (dari kata "Giring ilang"), yang kini menjadi situs ziarah.
Akhir Kisah Dewi Nawangsasi
Sementara itu, Dewi Nawangsasi yang dilanda kerinduan terhadap anaknya, bermeditasi di tepi Sungai Serayu. Saat para abdi dalem hendak menyampaikan berita wafatnya ayahandanya, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh ke air. Ia pun menghilang (murca) dan hanya meninggalkan kotak sirih (bogem). Tempat itu kini dikenal sebagai Bogem.
Pelestarian Budaya dan Harapan ke Depan
Sejarah panjang Gumelem bukan hanya cerita masa lalu, namun juga bagian penting dari identitas budaya yang membentuk jati diri masyarakat hingga kini. Tradisi seperti Sadran Gede, Ujungan, dan ziarah ke Girilangan masih rutin dilaksanakan dan menjadi simbol solidaritas serta spiritualitas kolektif warga.
Masyarakat Gumelem Wetan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan budaya dan situs-situs sejarah yang ada. Peran pemuda sangat penting dalam upaya dokumentasi, edukasi, dan pelestarian nilai-nilai lokal agar tetap hidup di tengah modernisasi.
Dengan semangat gotong royong dan cinta budaya, Desa Gumelem Wetan diyakini akan terus tumbuh menjadi desa yang kuat secara budaya, spiritual, dan sosial.
Disusun berdasarkan sumber lisan dan catatan sejarah oleh Agus Winaryanto, serta wawancara dengan berbagai narasumber masyarakat Gumelem antara tahun 2002 hingga 2011.
Artikel saat ini masih dalam tahap pengembangan. Informasi akan terus diperbarui seiring dengan proses pendataan dan verifikasi dari berbagai sumber resmi. Mohon kesabarannya, dan pantau terus untuk mendapatkan informasi terbaru.Artikel saat ini masih dalam tahap pengembangan. Informasi akan terus diperbarui seiring dengan proses pendataan dan verifikasi dari berbagai sumber resmi. Mohon kesabarannya, dan pantau terus untuk mendapatkan informasi terbaru.